Selasa, 14 Agustus 2018

Sebuah Janji

 
Gunung Prau 12 Agustus 2018

   Berbicara janji tentu mengarah pada hutang, dan itu harus dibayar. Berjanji itu mudah, tinggal menggerakkan lidah dan bibir, jadilah sebuah janji, yang susah itu mempertanggungjawabkan janji. Berkisah setelah membahas mengenai keindahan alam, aku mengirim sebuah foto pemandangan dari atas gunung, entah itu foto gunung yang mana saya agak sedikit lupa. Pembahasan mengenai gunung pun berlanjut, banyak pertanyaan yang menggelitik telinga, kenapa kok suka muncak? emangnya di gunung ada jalannya? terus kalau lapar gimana, ada makanan? masaknya gimana? yah, kalau saya teruskan, isinya cuma pertanyaan melulu, bukan pertanyaan yang susah dijawab sebetulnya, masa iya mau nulis pertanyaan doang. Mungkin rasa penasarannya sudah memuncak, jadi aku memberanikan diri untuk berjanji akan mengajaknya mendaki gunung, ya bukan gunung yang terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Bukan tentang tinggi rendah gunung itu, namun kesan yang akan diperoleh setelah mendakinya. Ya, setidaknya dia merasa ketagihan lah hehe. Setelah saya menawarkan itu, ternyata tawaran saya diterima, ya itu menyenangkan dan agak membebani saya, bukan berarti saya menyesal berjanji ke dia, tetapi apa saya bisa memenuhi janji saya itu. 
   Itu sekedar kilas balik, mengapa saya mendaki gunung lagi, bukan tentang eksistensi atau ingin yang aneh-aneh, tapi sudah saya katakan di awal kalau ini adalah hutang saya, iya kalau saya terus-menerus ketemu sama dia, kalau tidak kan agak repot nantinya. Kisah selanjutnya yaitu tentang kapan mau merealisasikannya,, setelah dipikirkan dan mengatur jadwal ini itu, maklum dia pribadi yang agak sibuk, tidak masalah lah ya, toh sibuknya itu positif. Diputuskanlah bulan Agustus pertengahan akan berangkat mendaki gunung. Oh iya, saya lupa memberi tahu gunung mana yang akan saya daki, gunung Prau akan menjadi tujuannya. Ini bukan pertama kali saya mendaki gunung prau, tahun sebelumnya saya dan teman-teman sudah pernah mendakinya. Kenapa memilih gunung Prau,  saya pikir gunung Prau adalah gunung yang tepat bagi pemula seperti dia dan gunug tersebut merupakan salah satu spot terbaik di Asia untuk menikmati sapaan sang mentari.
Tiba waktunya untuk saya merealisasikan janji itu, pertamanya saya agak tidak yakin, tapi saya pikir kalau belum dicoba kenapa sudah menyerah kan. pendakian dilakukan pada sore hari melalui jalur yang cukup singkat, jalur itu belum saya kenal sebelumnya. Setelah tahu kondisi jalurnya, saya semakin tidak yakin, dan banyak bergumam di dalam hati. Singkat cerita akhirnya kita dapat mencapai puncak dengan selamat dan bisa menikmati indahnya pemandangan yang sangat menakjubkan, dan lebih bersyukur lagi masih diberikan keselamatan dan kesehatan hingga tiba di rumah masing-masing. 
   Dalam benak saya pernah terlintas,  Apakah petualangan tentang mengabaikan rumah untuk terlihat gagah? Apalah petualangan tentang keangkuhan diri untuk menutup diri? Kini aku sadari bahwa petualangan itu menghilang untuk menemukan, berjalan untuk memaafkan dan mengalah untuk membahagiakan. Mengutip kata-kata dari video pendakian Fiersa Besari, "carilah pasangan yang senang mendaki gunung, agar suatu saat nanti saat mendaki gunung dan dia tidak ikut dia tidak akan berpikir yang tidak-tidak apalagi melarang-larang karena dia tahu benar nikmatnya mendaki gunung" Jadi apa yang membuat saya berani berjanji untuk mengajaknya mendaki gunung, dan mendaki (lagi) bagi saya pribadi? Bukankah di kota lebih enak dan sudah tersedia semuanya? justru itu, di gunung uang menjadi tidak seberarti di kota, canda dan tawa menjadi tidak sepura-pura di kota, persabatan menjadi tidak sepalsu di kota. Memang, kalau di lihat dari jauh, gunung itu nampak gagah, tapi setelah menelusurinya dia tampak buruk rupa dan menjengkelkan, tapi percayalah setelah kamu mencapai puncaknya, rasa takjub akan keindahannya akan kamu dapatkan.
   Dalam setiap perjalanan, akan memberikan kesan tersendiri dan pelajaran yang baru. Dalam perjalanan kali ini pelajaran yang saya dapatkan yaitu jangan menaruh ketidakyakinan yang berlebih, karena kita tidak tau batas kemampuan seseorang. Justru pribadi tersebut lebih kuat dibanding diri kita. 
    Mungkin demikian coretan dari anak kedua ini, ceritanya mungkin tidak begitu menarik. Saran dan komentar atau mungkin pertanyaan bisa langsung ditulis saja ya. jangan lupa juga, Jangan menyampah di Gunung ya, kawan-kawan. sampai jumpa kembali dengan cerita dari anak kedua ini.

salam.



3 komentar:

  1. Mungkin akan lbh baik dlm penulisan tdk bnyak mnggunkan koma.
    Selain itu, akan lbh baik (dia) yg diajak naik gunung lgsg disebutkan namanna, biar smua netizen tau.
    Selanjutnya, agar lbh afdol apabkla saya jg diajak utk mendaki, sdh rindu akan sapaan mentari dr pncak.
    Sekian komentar dr netizen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saran diterima, haha. Ooo mau tau namanya juga ya wkwk. Mari kita agendakan bung!

      Hapus
  2. Penggunaan kata ganti orangnya gak konsisten mas. Diawal pakai "aku" trus paragraf selanjutnya pakai "saya".
    Banyak tulisan yg typo juga.

    BalasHapus

Bertambah dan Melangkah (lagi)?

Langkah kaki semakin jauh Menapaki tempat yang riuh Mencoba mencari Apa potensi yang ada dalam diri - - ...